My Journey

Ini pertama kalinya saya melihat dia OL. mau say hello ndak enak, palingan juga ndak bakalan bales. jadinya, klik namanya, & liat wall nya. :D oooh„ belum ada updatean terbaru pasca terakhir saya liat. ya udah deh, set off aja. pas agak lama, cek lagi ternyata dia udah off.. haha.. *kelakuanmu wi… wi…

ooohh,… sepertinya fb saya diset offline. mungkin biar kalo dia lagi ol, dia nggak bakalan terganggu. hehe… ya sudah lah. :)

karena dia adalah pooh yang hangat dan baik hati. *apasih

karena dia adalah pooh yang hangat dan baik hati. *apasih

(Source: icanread)

(Source: icanread)

Setelah sekian lama ndak ketemu pasca kkn, untuk pertama kalinya sub unit 4 ngumpul. :D 

memang ada rasa tidak enak ketika bercerita tentang “hal itu”. Tapi semalem, saya kira saya bisa mendengarkan cerita itu dengan baik. Meskipun sebenarnya dalam hati ada rasa kecewa dan sedikit jengkel ketika mendengarkan beberapa cerita yang diantaranya :

  • Mengulang pernyataan lalu bahwa dia hanya main-main, meskipun dengan bahasa yang berbeda, “yang menantang adalah proses menggodanya, setelah dapet jadi biasa aja”. 
  • Dia bilang kalo dia lupa pesan saya dulu waktu ketemu dikampus. Ya, dulu saya memintanya untuk bilang sendiri ke pemberi titipan kalo titipannya sudah diterima dengan baik tanpa merusak segel :D *apa coba. waktu itu dia sudah bilang “beres, tenang wae wi”. Ternyata lupa. -__-

Tapi, semua itu sudah tertutupi dengan cerita-cerita lucu selama hampir 2 bulan tinggal bersama. dan, ada yang membuat saya merasa lega. bahwa saya sudah tidak se-eksplosif dulu ataupun kemarin-kemarin. 

Apa yang sudah terjadi di belakang itu menjadikan saya semakin yakin bahwa masalah yang saya hadapi tidaklah lebih besar dari diri saya. Dan memang, saya harus belajar dari semua itu.

(Source: icanread)

Ada Sujiwo Tejo di tv1. tapi ceritanya sudah “kekinian”. jadinya sedikit garing ceritanya. -_-‘

Kenapa sih mas banyak penanaman modal asing masuk ? terlepas dari jawaban kita belum bisa mengolahnya lho ini. hehe…

Pertanyaan dan pernyataan diatas saya baca tadi pagi di pesan hp saya, sebagai lanjutan dari obrolan semalam. Agak sedikit malas untuk membalasnya karena terus terang saja apa yang ada dalam otak saya berseberangan dengan isi pesan tersebut. Kita belum bisa mengolahnya ? Kata siapa ? kalau itu memang benar, harusnya perusahaan multinasional itu tidak mempekerjakan sarjana-sarjana lulusan PT di Indoneisa dong ? 

Kita bukan tidak mampu. Tetapi kita hanya terburu-buru dan terlalu tergiur dengan nilai investasi, terlalu tergiur dengan angka fantastis yang dibawa oleh investor luar. Pemerintah (khususnya pemerintah daerah) sangat membutuhkan dana segar yang siap digelontorkan investor asing dalam waktu sekejap. Mengapa pemda tergiur ? Iya, karena dana transfer pusat ke daerah tidak bakal cukup untuk mendanai program-program, seperti program kesehatan, UMKM, dsb. Lalu angka fantastis (yang semu) itu mampu mengelabuhi pemda, seolah-olah jumlah itu begtu besar, tapi ternyata uang yang didapat pemerintah (daerah) tidak sebebsar uang yang diperoleh oleh MNC itu.(tapi ada dua kemungkinan, pemda benar-benar tidak tahu, atau pemda pura-pura tidak tahu) Dan yang perlu diingat bahwa sebagian besar investasi oleh MNC adalah investasi disektor industri ekstraktif. Setelah sumber daya yang ada habis, MNC akan pergi. Dan, tidak menutup kemungkinan “kita” yang kebagian susahnya. 

Kalau untuk pertanyaan banyaknya PMA yang masuk ke dalam negeri, ya karena ada Undang-Undang PMA yang mengatur (yang sayangnya terlalu memudahkan masuknya investor asing). hehe.. Disamping itu juga kita memang mempunyai daya tarik yang kuat, alam kita kaya.

Sayang sekali, sebenarnya kita mampu, tapi terlalu terburu-buru. Dan, pandangan yang terlanjur melekat dalam pikiran kita, bahwa kita belum mampu itu menjadi semacam excuse yang memperbolehkan investasi dengan segala bentuk kerjasama yang serampangan itu diperbolehkan dan dianggap perlu.

Lalu, apa yang perlu dilakukan ? jelas political will dari para perumus kebijakan. Apakah mau “bersabar” membangun dengan kekuatan sendiri dengan potensi keuntungan maksimal, atau memilih yang instan dengan mengijinkan masuk para investor, dengan resiko menikmati sedikit dari apa yang kita punya, dan memberikan lebih banyak kepada mereka. 

mungkin, saya merindukan sosok yang pernah berkata : “Go to hell with your aid” :)

yo ben

cuma mau merefleksi apa yang sudah terjdi  tentang “hal itu” dan apa kata orang tentang saya dengan sebuah frasa “yo ben”. Bukan saya ndableg dengan mengatakan yo ben, tapi, apapun itu, baik perkataan ataupun pandangan orang terhadap saya, ya seperti inilah saya. Setidaknya, saya senang menjadi diri sendiri, mengakui kesalahaan dan juga kekurangan saya, serta mau memperbaiki diri atas kesalahan dan kekurangan saya itu. 

  • dibilang oportunis —> yo ben
  • dibilang kekanak-kanakan —> yo ben
  • dibilang nggak dewasa  —> yo ben
  • dibilang terlalu cepat menilai seseorang  —> yo ben
  • memuakkan  —> yo ben
  • menjengkelkan  —> yo ben
  • dichat nggak pernah dibales  —> yo ben
  • memborbardir pertanyaan  —> yo ben
  • bertepuk sebelah tangan  —> yo ben
  • sudah membuat orangnya benar2 tidak nyaman  —> yo ben
  • dikira membuat “clash” diantara mereka  —> yo ben
  • yo ben  —> yo ben (haha… *parah kalo ini..)

begitulah kira-kira, dan sekarang, yang menjadi PR saya adalah menghapus cap-cap yang sudah terlanjur melekat pada diri saya. Memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan untuk hal-hal yang tidak bisa diperbaiki, ya sudah. katakan saja “maaf”. 

Setulus hati saya minta maaf, jika disangka telah merusak hubungan baik antara F.A. dengan D.A.S. *inisial apa ini* Tapi, saya hanya ingin membantu D.A.S untuk menjawab apa yang menjadi pertanyaannya selama ini. Mungkin media dan cara yang saya gunakan salah sehingga prasangka itu terlihat benar. Tapi, percayalah, saya hanya ingin membantunya. itu saja. full text, bisa liat di blog saya. *bagi yang merasa saja sih. :D

#galauedisi”yoben” 

Perlu jawaban yang langsung mengena dari pertanyaan yang akhir-akhir ini “menyerang”.

  • Kapan lulus ?
  • Udah punya pacar belum ?

Untuk pertanyaan pertama, saya maklumi dan dengan senang hati saya jawab, nanti kalo sudah selesai. dan untuk pertanyaan kedua, sedikit menjemukan karena nanti pasti ada tanggapan selanjutnya. haha… 

  • *kalo saya jomblo, kenapa ? mbok yang ditanya tu yang pacaran tapi kelamaan itu lhoo.. “kok pacaran melulu ? kapan nikahnya ?” yang jomblo  (seperti saya) tolong jangan ditanya.. haha… kalau macam saya, belum lulus, jomblo pula, ditanya pertanyaan seperti itu yaa agak kesel juga :D
More Information