Kenapa sih mas banyak penanaman modal asing masuk ? terlepas dari jawaban kita belum bisa mengolahnya lho ini. hehe…
Pertanyaan dan pernyataan diatas saya baca tadi pagi di pesan hp saya, sebagai lanjutan dari obrolan semalam. Agak sedikit malas untuk membalasnya karena terus terang saja apa yang ada dalam otak saya berseberangan dengan isi pesan tersebut. Kita belum bisa mengolahnya ? Kata siapa ? kalau itu memang benar, harusnya perusahaan multinasional itu tidak mempekerjakan sarjana-sarjana lulusan PT di Indoneisa dong ?
Kita bukan tidak mampu. Tetapi kita hanya terburu-buru dan terlalu tergiur dengan nilai investasi, terlalu tergiur dengan angka fantastis yang dibawa oleh investor luar. Pemerintah (khususnya pemerintah daerah) sangat membutuhkan dana segar yang siap digelontorkan investor asing dalam waktu sekejap. Mengapa pemda tergiur ? Iya, karena dana transfer pusat ke daerah tidak bakal cukup untuk mendanai program-program, seperti program kesehatan, UMKM, dsb. Lalu angka fantastis (yang semu) itu mampu mengelabuhi pemda, seolah-olah jumlah itu begtu besar, tapi ternyata uang yang didapat pemerintah (daerah) tidak sebebsar uang yang diperoleh oleh MNC itu.(tapi ada dua kemungkinan, pemda benar-benar tidak tahu, atau pemda pura-pura tidak tahu) Dan yang perlu diingat bahwa sebagian besar investasi oleh MNC adalah investasi disektor industri ekstraktif. Setelah sumber daya yang ada habis, MNC akan pergi. Dan, tidak menutup kemungkinan “kita” yang kebagian susahnya.
Kalau untuk pertanyaan banyaknya PMA yang masuk ke dalam negeri, ya karena ada Undang-Undang PMA yang mengatur (yang sayangnya terlalu memudahkan masuknya investor asing). hehe.. Disamping itu juga kita memang mempunyai daya tarik yang kuat, alam kita kaya.
Sayang sekali, sebenarnya kita mampu, tapi terlalu terburu-buru. Dan, pandangan yang terlanjur melekat dalam pikiran kita, bahwa kita belum mampu itu menjadi semacam excuse yang memperbolehkan investasi dengan segala bentuk kerjasama yang serampangan itu diperbolehkan dan dianggap perlu.
Lalu, apa yang perlu dilakukan ? jelas political will dari para perumus kebijakan. Apakah mau “bersabar” membangun dengan kekuatan sendiri dengan potensi keuntungan maksimal, atau memilih yang instan dengan mengijinkan masuk para investor, dengan resiko menikmati sedikit dari apa yang kita punya, dan memberikan lebih banyak kepada mereka.
mungkin, saya merindukan sosok yang pernah berkata : “Go to hell with your aid” :)